Lama banget ya jeda part 1 ke 2,gak papa ya...
MasyaAllah,Alhamdulillah dari judulnya aja auto flashback yaa..Aku lanjutin cerita tentang kehamilan pertama aku yang Alhamdulillah Allah karuniakan 2 bulan setelah kami menikah. Padahal aktivitas juga lumayan padat yaa..semua tidak lepas atas kehendak dan kekuatan dari Allah subhanahu wa ta'ala..
Setelah aku tau hamil dan cek pertama kali dan merasakan di USG oleh Ibu Bidan.. Haru-haru gimana yaa.. Kesana untuk mengecek kandungan.. MasyaAllah!! Ya pemeriksaan pertama begitu berkesan karena tanpa antri kita masuk dan bertemu Ibu bidan, dan kabar baiknya janin di kandunganku sudah berusia 3 minggu dan menantikan adanya kantung dan melihat jumlah calon bayinya...
Kunjungan kedua dan seterusnya kami lakukan secara rutin setiap bulannya dan setelah pemeriksaan, sampai rumah mandangin foto usg aja terus..sambil membatin "Ya Allah, Aku akan jadi seorang Ibu" dan atas kesepakatan bersama kami juga memilih satu dokter sebagai pendamping selama kehamilan.
Berdiskusi dan mengambil keputusan bersama itu pentiiing banget iya karena ini akan menjadi gerbang kerjasama yang baik. Akhirnya kita putuskan setiap bulan ke Ibu Bidan, dan per 3 bulan kita ke dokter spesialis kandungan, di Bidan aku mendapatkan pelayanan yang baik, tapi kalau karakter asisten bidan kan bisa beda-beda ya, jadi bumil bawaannya mudah sensiiii..bisa sedih, mudah tersinggung tapi jangan berlarut larut ya.. Cari semangat lagi biar ke stag mood swing itu ya..
Alhamdulillah setiap pemeriksaan kami lakukan berdua, jadi kami selalu mendapat informasi perkembangan bayi, melihat respon bayi, pergerakkan bayi juga mendengar detak jantung sang bayi... Semua moment terekam indah kalau ingat masa masa di USG.. Haruu bahagia..
Dan ga kerasa, udah memasuki 6 bulan...Pas pemeriksaan sempat di diagnosa oleh Bidan, untuk nambah BB si bayi supaya berat badan bayi juga nambah, jadi sampai di jejal makanan pendamping ibu hamil.. Dan diimbangi minum susu kehamilan, Suami aku rajiiiin banget buatin dan ingatkan minum vitamin kehamilan.. Demi kesejahteraaan tumbuh kembang bayi pertama kami...
Sampai di usia kehamilan 7 bulan kepala bayi ternyata belum kebawah, jadi posisi bayi kami sungsang, akhirnya diberi anjuran bidan untuk nungging maksimal, perbanyak sujud ditambah durasinya.. Belum juga ada perubahan...
Memasuki usia kehamilan 8 bulan, kami memutuskan ke bidan dan ke dokter lebih intens..jujur kami berdua khawatir namun kami saling menguatkan, karena perkembangan bayi kami Alhamdulillah sempurna dan sehat... Setelah mengantri kurang lebih 1 jam, kami pun masuk ke dalam ruangan dokter, saya naik ke atas kasur pemeriksaan USG.. Saat memandang ke layar, dokter berkata "Posisi kepala masih di atas ini.. Anak ibu terlilit tali pusar ini, mungkin ini juga yang membuat dia susah muter Bu, gak apa-apa, bawa sujud lama lagi ya bu, dan perbanyak minum air minum lagi yaa untuk nambah air ketubannya" saya mencoba tersenyum sekali lagi saya berusaha tenang.. Suami pun menguatkan saya lagi, di mobil air mata ini tumpah "Ya Allah nak, terlilit tali pusar yaaa.. Kita sudah berusaha nak selama sebulan ini, kita berusaha terus ya nak" saya elus sepanjang pulang menuju kerumah..
Sebulan, sehabis shalat saya memperlama sujud saya, terus afirmasi positif yang di sarankan dalam ilmu kehamilan dan persalinan memberikan sugesti kepada diri, tubuh dan bayi agar bisa saling bersinergi... Suami selalu mendampingi saya ikhtiar nungging maksimal hingga kadang sambil menangis berharap tali pusar ini lepas dan memudahkannya untuk berputar kebawah, treatmen memainkan botol berisi air dingin pun saya coba.. Hingga bermain cahaya senter kami upayakan bersama...dan tiba memasuki usia kehamilan 37 minggu 4 hari..
Kami ke bidan dan ke dokter lagi, bidan pun masih melihat kondisi bayi kami ternyata masing sungsang namun tidak dapat terdeteksi apakah masih terlilit tali pusar ataukah sudah berhasil terlepas... Kami pun ke dokter untuk memeriksa bayi kami, dan dokter berkata "Masih sungsang ini Ibu, padahal sudah terlepas tali pusarnya, BB bayinya sudah lebih dari 2 kilogram, prediksi saat itu 2,8 sekian kilo,harus ambil tindakan ini" Deg! Antara bersyukur bayi sudah tak terlilit tali pusar, namun berapa minggu lagi akan menunggu karena kehamilan sudah matang di usia 38 minggu.
Saya terdiam membisu, sambil mengelus bayiku, Suami dengan tegas berkata "Baiknya bagaimana dok, kalau harus operasi, kami siap" pemeriksaan terakhir dibulan september tanggal 28 tahun 2019. Dokter dan Suami akhirnya sepakat memilih tanggal 1 Oktober 2019, pukul 08.00 pagi saya operasi di rumah sakit ibu dan anak yang sangat dekat dari rumah saya.. Itu artinya 3 hari lagi, kami akan bertemu dengan anak kami....
Sejak mendapat keputusan itu, Suami mengajak saya jalan ke Mall, sebagai hiburan sejenak sebelum operasi dan mungkin akan lama lagi balik kesana.
Sesampai dirumah kami memberi kabar kepada keluarga, kerabat dan sahabat agar berkenan memberikan doa agar persalinan saya nanti berjalan lancar, putri kami selamat dan sehat, dan lekas pulih..
Ba'sa subuh, saya menangis meminta ridho suami saya dan memeluknya erat, pagi itu tanggal 1 Oktober 2019, kami berangkat menuju RSIA Hermina Samarinda. Dengan memberikan surat rujuk dokter kandungan kepada tim medis, saya pun di proses mulai dari persiapan penggantian baju kamar operasi, ternyata disana banyak para ibu yang mengantri lahiran secara operasi meskipun dokter yang. Menangani kami berbeda seingat saya ada 7 pasien operasi..
Setelah dibantu oleh suami dalam penggantian pakaian operasi, suami mendampingi di balik pintu alias tidak diperkenankan menunggu didalam dan tidak diperkenankan masuk ke dalam ruang operasi..
Detik detik jam 08.00 saya dipanggil, dan masuk ke kamar operasi, seskali di ajak obrol ringan oleh tim operasi, tidak lama saya merasa sedikit rileks, di proses penyuntikan di tulang belakang oleh dokter anastesi, semua organ dibawah tidak terasa apa-apa. Kemudian para tim berkata "Baik Ibu, berdoa yaa.. Proses operasi kita mulai saat ini jam 08.17..." saya pun menjawab "Baik dok, Bismillahirrohmanirrohim" sambil meneteskan air mata.
Di sela-sela proses mengeluarkan Sang bayi mereka berkata kepada saya "Kaki sudah mulai kelihatan ibu...wah sekarang badan.." dan terhenti... Ternyata dokter sedang mengupayakan menekan perut bagian atas saya sedikit ada gerakan push... Dan ada gerakan gelombang di perut saya..dan saya sudah menduga itu kepala bayi saya..Dan kesunyian ruang operasi pecah ketika saya pertama kali mendengar tangisan putri saya yang begitu nyaring tepat pada pukul 08.22, Kalimat tahmid Alhamdulillah diiringi bulir airmata, mereka menciumkan bayi saya ke pipi dan bibir saya.. Ya Allah inilah hari pertemuan kami, putri yang saya kandung selama 9 bulan ini...yang saya bawa kemana-kemana..sudah terlahir di dunia dengan sehat, dan sempurna BB 2,5 kg... Terima kasih ya Allah...Kami berjanji akan memberikannya kasih sayang untuknya, kami akan merawat, menjaganya, melindunginya, dan memberikan pendidikan yang terbaik untuknya.. Bimbing kami ya Allah, agar menjadi orangtua yang memiliki suri tauladan seperti baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Aamiin ya robbal alamin
Komentar
Posting Komentar